Belajar dari Si Astrophile
Dalam dunia psikologi, Astrophile adalah sebutan bagi seseorang yang menyukai langit dan benda-benda luar angkasa. Penulis adalah salah satu Si Astrophile itu.
Ketika melihat langit, penulis selalu tersenyum. Langit yang cerah mewakilkan perasaan bahagia. Langit yang kelabu mewakilkan perasaan yang sendu. Dan entah kenapa setiap melihat langit, perasaan sakit di hati akan hilang seketika.
Menurut pandangan penulis, luasnya langit menggambarkan luasnya hati. Sesakit apapun, akan selalu ada kata maaf. Hati yang sempit akan menjadi luas kembali.
Langit yang cerah menggambarkan perasaan senang. Sebaliknya, langit yang mendung menggambarkan sedih. Langit tidak selamanya cerah, tidak pula selamanya mendung. Tapi langit tetaplah langit, yang luas dan indah. Seperti hidup, kadang senang, kadang sedih, tapi hidup tetaplah indah dan pantas untuk selalu di syukuri.
Di langit, kita bisa melihat bulan, bintang dan matahari yang muncul di tempat dan waktunya masing-masing. Seperti di dalam kehidupan, kita akan bertemu dengan banyak hal, banyak orang, banyak kejadian yang akan kita alami hanya pada waktunya. Bulan akan muncul di malam hari, matahari akan muncul di siang hari. Dan ada juga yang selalu ada pada keduanya, namun hanya terlihat di malam hari, yaitu bintang. Menggambarkan bahwa di setiap masa, pasti ada seseorang yang hadir, tapi setiap orang punya masanya selama apa dia akan hadir. Dari ini kita bisa belajar bahwa people come and go yang nantinya akan mengajari kita cara untuk ikhlas dengan apapun yang terjadi di dalam hidup, sebab semua sudah di atur oleh Sang Pencipta.
Ah, penulis hampir lupa. Salah satu keindahan langit lainnya terlihat ketika fajar dan senja. Singkat, indah dan berkesan. Sama seperti kehidupan, awal sebuah cerita pasti selalu indah. Mungkin di dalam perjalanan sebuah cerita, langit bisa berubah menjadi mendung, cerah atau apapun, tapi ketika kita sabar menunggu dan menikmati proses kehidupan, maka di akhir, kita akan menikmati buah kesabaran.
Selain itu, singkatnya keindahan fajar dan senja mengingatkan kita bahwa kesempatan itu tidak datang dua kali. Mungkin akan datang lagi, tapi di lain waktu dan belum tentu kita masih ada di dunia ketika kesempatan itu datang kembali. Jadi apapun yang terjadi, maka nikmati. Kesempatan apapun yang datang, maka pergunakan.
Rasanya penulis belum cukup pandai untuk menggambarkan keindahan, perasaan-perasaan dan pelajaran yang penulis rasakan ketika melihat langit. Saking sukanya, rasanya sulit untuk diungkapkan dengan kata. Semoga kalian bisa memahami perasaan dan menangkap makna yang berusaha penulis ungkapkan tentang sudut pandang penulis sebagai seorang Astrophile terhadap langit.

Komentar
Posting Komentar